Gracia : Diberkati, Rahmat.

My heart is so proud. My mind is so unfocused.
I see the things You do through me as great things I have done.
And now You gently break me, then lovingly You take me
And hold me as my father and mold me as my maker.

Grace ~ Laura Story

Hari ini, saya akan melakukan perjalanan penting dalam hidup, yaitu menjalani Magnetic Resonance Imaging atau MRI. Lalu kenapa sampai harus MRI?

Ceritanya bermula dari budget medical check up yang sayang untuk diabaikan. Jadi, akhir tahun 2018 kemarin saya melakukan general check up. Semuanya bagus, kecuali satu. Ada kista di ovarium saya. Ga cuma satu, tapi dua. Kanan dan kiri dengan besar yang berbeda.

“Penyakit kista adalah kondisi yang disebabkan oleh benjolan berbentuk kapsul atau kantung dan terisi dengan cairan, semisolid, atau material gas yang dapat muncul pada jaringan tubuh mana saja. Sedangkan kista ovarium, atau kista indung telur, adalah kantung berisi cairan di dalam atau pada permukaan indung telur.”

source : hellosehat.com

Pada saat itu, dokter yang menangani saya memberikan rujukan untuk melakukan MRI agar mengetahui letak pasti “si kista” ini ada di mana. Supaya bisa menetukan treatment lanjutan, apakah akan diangkat atau tidak. Karena belum dapat terlihat melalui hasil USG yang cuma 2D.

Lalu hari-hari selanjutnya yang tertanam dalam otak saya adalah, saya sakit. Saya punya kista. Saya ga bisa makan ini itu, dan saya yang lainnya. Begitu terus selama berbulan-bulan. Selama itu pula saya mengusahakan diri mencari obat-obatan yang mungkin dapat menghilangkan “si kista”.

Tiga minggu yang lalu, setelah melalui pencocokan jadwal yang panjang, saya dan teman-teman komsel memutuskan untuk pergi ke Lembah Karmel, Cikanyere. Rasa-rasanya sudah lama kami tidak pergi ke sana. Dan ternyata hari itu adalah minggu ke-4 dimana ada misa adorasi dan penyembuhan.

Saya datang dengan perasaan jumawa. Maksud saya, saya pikir saya sedang berada di fase yang baik dalam hidup. Keluarga, pasangan, pekerjaan tidak ada yang sedang saya keluhkan. Jadi ya saya merasa baik-baik saja. Sempurna. Sampai akhirnya misa selesai, dan dimulailah adorasi.

Pada saat itu, Romo mulai menyembuhkan penyakit orang-orang. Mulai dari migrain, lutut, pencernaan, pernafasan, semuanya disebutkan. Tiba-tiba saya teringat! Ada satu penyakit yang saya bawa-bawa selama ini. Mendadak saya ingat kalau saya punya kista. Jadi sepanjang adorasi itu, saya berdoa, memohon supaya disembuhkan dari kista. Karena setelah saya mencoba segala pengobatan, pada akhirnya saya tetap harus memasrahkan diri pada kehendak Tuhan, right?

Sementara Romo terus menyebutkan sakit-sakit yang lain, saya berkata “Pokoknya kalo kista ga disebut, ga mau berdiri”. Fyi, biasanya ketika penyembuhan, orang-orang yang sakitnya disebutkan akan berdiri, dan setelah disembuhkan mereka akan mengucap syukur. Jadi saya kekeuh minta secara gamblang harus disebut kistanya. Padahal, sudah begitu banyak sakit-sakit yang sebenarnya saya punya, tapi tidak saya akui. Kepala yang sering migrain atau sakit lutut ketika turun/naik tangga. Sampai akhirnya, Sakramen Mahakudus akan berkeliling dan memberkati semua orang. Saya hopeless. Selesai sudah. Jadi, saya memang masih akan bergumul dengan “si kista”.

Surprisingly, ketika Sakramen Mahakudus berkeliling, penyembuhan terus berjalan. Sampai akhirnya saya mendengar ada kesembuhan untuk “si kista”. Twice! Ya, ga cuma satu kali disebutkan, melainkan dua kali disertai dengan kalimat peneguhan dari Romo yang lain. How do i know? Percayalah, kalian akan tau dengan sendirinya ketika Sabda itu memang diperuntukkan buat kalian. Saya terdiam, menangis hebat dan merasa sungguh berdosa di hadapan Tuhan. Who am I Lord?

Jadi, di sinilah saya ditemani abang koko yang begitu sabar, menjalani pemeriksaan MRI untuk meyakinkan sisi manusia saya, yang membutuhkan bukti hitam di atas putih. Melewati lima jam pemeriksaan membosankan, termasuk laboratorium darah untuk cek ginjal, dan USG di akhir sesi. Hasilnya? Seperti segala kisah indah mengenai penyembuhan yang tertulis dalam Alkitab. SAYA SEMBUH. Tidak ada benjolan apapun dalam ovarium saya.

Guys, can you believe it? 

Lagi-lagi saya cuma bisa menangis. Padahal walaupun saya berkeyakinan sembuh setelah dari Lembah Karmel, saya tetap takut menghadapi MRI. Bagaimana seandainya “si kista” tetap ada. Apakah saya masih berdoa? Apakah saya tetap percaya Tuhan?

Hasil gambar untuk ephesians 2:8-9

Ayat ini saya dapatkan saat menunggu hasil Laboratorium untuk proses MRI 🙂 dan lagu Grace dari Laura Story yang terus menemani

Teman-teman, TUHAN ITU ADA. TUHAN ITU NYATA. Dan saya percaya Tuhan yang mendengarkan doa saya, juga mendengarkan doa kalian semua. Tuhan yang menyembuhkan saya, juga Tuhan yang akan menyembuhkan kalian. So, apapun yang sedang kalian hadapi, serahkan semuanya kepada Tuhan. Saya percaya dia akan menyelesaikan segalanya tepat pada waktuNya. Bukankah kita cuma harus percaya dengan iman sebesar biji sesawi?

Selamat berharap pada Tuhan…

I ask you: “How many times will you pick me up,
When I keep on letting you down?
And each time I will fall short of Your glory,
How far will forgiveness abound?”
And You answer: ” My child, I love you.
And as long as you’re seeking My face,
You’ll walk in the power of My daily sufficient grace.

Grace ~ Laura Story