Gereja : Sebuah Rumah dan Keluarga*

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. (1Kor 12:12)

Keluarga adalah “Gereja” terkecil dalam hidup kita. Di dalam keluarga, pasti terjadi banyak interaksi antar anggotanya, entah saling support, maupun sebaliknya. Terlepas apakah interaksi yang terjadi itu baik atau tidak, yang jelas interaksi tersebut telah melahirkan suatu persekutuan (kebersamaan). Menjadi lengkap sebagai sebuah Gereja kecil, ketika sharing iman menjadi bagian dari proses interaksi dalam keluarga, secara konkrit akan adanya kegiatan berdoa bersama. Melalui keluarga, kita sebagai pribadi dibentuk untuk dapat menjadi orang yang lebih baik. Dan layaknya sebuah keluarga, kita membutuhkan tempat untuk tinggal, bertumbuh dan pulang yang selalu kita sebut dengan rumah.

Gereja, berasal dari bahasa Yunani ekklesia (ek = keluar, kaleo = memanggil) yang berarti, persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang Tuhan yang ajaib (bdk 1 Petrus 2:9). Berdasar makna dasar itu, keluarga yang sehat layak disebut Gereja, karena ada unsur persekutuan atau kebersamaan pasti selalu ada, dan bahwa ada usaha untuk keluar dari kegelapan (mau bertumbuh dan berkembang), pasti juga ada.

Di dalam keluarga, setiap anggotanya (meskipun diikat dalam pertalian darah dan biasanya mempunyai kemiripan secara fisik), pasti mempunyai berbagai macam sifat, yang berbeda-beda. Begitu pula yang terjadi dalam Gereja (yang diikat dalam pertalian iman yang sama), tetap saja ditemukan adanya karakter yang bermacam-macam. Dalam perbedaan yang unik tersebut, idealnya kita bisa saling melengkapi atau memperkaya, bukan justru menjadi alasan untuk bertengkar dan berpisah. Begitu pula dalam keluarga kita. Perbedaan yang ada, semoga menjadi sumber yang subur untuk saling mendukung. Itulah yang kita, selaku anak, berharap. Kita merindukan dukungan (support) dari anggota keluarga yang lain.

Di dalam Gereja, mengenal satu dengan yang lainnya itu penting. Kita tidak hanya datang ke Gereja untuk mengikuti Misa setiap hari Minggunya, tanpa perlu mengenal satu sama lain. Karena selaku Gereja yang hidup dan sehat, kita membutuhkan persekutuan dengan saudara seiman lainnya. Begitu pula dalam keluarga kita. Maka sangat tragis bila orang tua kita terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai lupa untuk meluangkan waktu bersama anak-anak. Lebih tragis lagi, bila anak-anak lebih akrab dan mengenal pembantunya, daripada orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, keluarga sungguh menjadi Gereja kecil yang hidup dan sehat, jika seluruh anggotanya mempunyai waktu untuk saling mengenal dan berbagi hidup.

Dalam Gereja, kita sebagai anak-anak Allah mengalami kasih Kristus yang sama. Kasih yang menguatkan satu sama lain, bahkan mampu menyembuhkan. Kita dipanggil untuk membangun hubungan berlandaskan kasih Tuhan, dan berani berkomitmen untuk melayani sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semuanya itu akan indah, bila juga terjadi di dalam keluarga kita masing-masing.

Untuk bisa bertumbuh dalam segala aspek, kita tidak perlu takut untuk terlibat dalam Gereja, karena melalui Gereja kita dapat bertumbuh bersama, sehingga menjadikan kita dewasa dalam iman. Melalui Gereja pula kita akan mampu untuk membagikan sukacita, membawa orang lain pada pengalaman yang sama dalam merasakan kasih Tuhan seperti yang kita alami.

Selamat menggereja!

*) ditulis untuk Majalah MediaPass dalam rangka ulang tahun Gereja St. Stefanus – Cilandak, Oktober 2017.

Advertisements